Pemerintah Indonesia melalui Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral — Direktorat Jenderal Minyak dan Gas Bumi — telah membuat blue print Program Pengalihan Minyak Tanah ke LPG 2007-2012. Berdasarkan blue print yang telah dibuat tersebut, daerah Provinsi Jawa Timur merupakan daerah yang akan dikonversi pemakaiaan minyak tanah bersubsidi ke LPG 3 kg oleh Pemerintah dengan jumlah estimasi pengguna minyak tanah bersubsidi yang akan dikonversi ke pengguna LPG 3 kg sebesar 8,7 juta kepala keluarga.

Program konversi mitan ke LPG 3 kg akan diselesaikan tahun 2009 untuk daerah Provinsi Jawa Timur. Adapun besar calon penerima LPG 3 kg per kepala keluarga di setiap daerah di Provinsi Jawa Timur adalah sebagai berikut:

kuota-penerima.jpg

Grafik 1: Kuota Calon Penerima LPG 3 kg

Dengan menggunakan asumsi pemakaian LPG 3 kg per kepala keluarga adalah sebesar 9 kg LPG per bulan, maka didapatkan grafik konsumsi LPG 3 kg untuk tiap bulannya adalah sebagai berikut:

konsumsi.jpg

Grafik 2: Konsumsi LPG 3 kg di tiap daerah

Jumlah konsumsi LPG 3 kg yang cukup besar tersebut, seharusnya juga harus didukung dengan kesiapan infrastruktur LPG 3 kg di daerah Provinsi Jawa Timur. Kesiapan infrastruktur dibutuhkan agar masyarakat di daerah Provinsi Jawa Timur dapat dengan mudah mendapatkan LPG 3 kg tanpa ada rasa beban psikologis akan terjadinya kelangkaan.

Untuk infrastuktur LPG yang ada selama ini adalah infrastukutur rantai distribusi LPG untuk 6 kg, 12 kg, 50 kg tergambar seperti dibawah ini:

rantai-lpg.jpg

Gambar 1: Alur rantai distribusi LPG

Adapun infrastuktur rantai distribusi minyak tanah bersubsidi selama ini seperti tergambar di bawah ini:

rantai-mt.jpg

Gambar 2 : Alur distribusi minyak tanah bersubsidi

Program konversi ke LPG juga bertujuan agar rantai distribusi minyak tanah bersubsidi dikonversi menjadi rantai distribusi LPG. Sehingga rantai LPG 3 kg bersubsidi adalah mengubah agen pangkalan minyak tanah (APMT) menjadi Agen LPG 3 kg, pangkalan minyak tanah (PMT) menjadi pangkalan LPG 3 kg, dan para pengecer mitan bersubsidi menjadi pengecer LPG 3 kg.

Rantai distribusi untuk LPG 3 kg yang akan dibuat adalah :

rantai-lpg-3-kg.jpg

Gambar 3 : Alur distribusi baru LPG 3 kg

Dari rantai distribusi LPG 3 kg tersebut, akan dibahas kebutuhan infrastrukutur LPG 3 kg yang harus ada. Kebutuhan infrastrukur harus disesuaikan dengan kebutuhan LPG 3 kg warga yang ada di daerah Provinsi Jawa Timur. Dengan menggunakan asumsi kuota 90% dari jumlah kepala keluarga dari Badan Pusat Statistik - Potensi Desa 2005-, untuk mendapatkan jumlah konversi pengguna minyak tanah bersubsidi ke LPG 3 kg. Jumlah kepala keluarga di provinsi Jawa Timur adalah 9. 694.644, dengan asumsi kuota 90% maka 8.725.180 kepala keluarga yang akan menggunakan LPG 3 kg. Dengan asumsi konsumsi LPG 3 kg per kepala keluarga adalah 9 kg/bulan maka dibutuhkan 87.252.000 kg (87.252 ton) LPG per bulan atau 2.908 ton per hari. Dengan pengisian per 3 kg untuk 1 tabung, maka akan dibutuhkan 969.333 tabung 3 kg per hari.

Dari kebutuhan LPG 3 kg yang sangat besar tersebut, infrastruktur yang harus ada mulai dari depot LPG, SPPBE, agen LPG 3 kg, pangkalan LPG 3 kg. Saat ini, fasilitas infrastuktur LPG yang ada hanya bisa memenuhi LPG sekala tabung: 6 kg, 12 kg, 50 kg. Belum ada informasi yang menyatakan telah diberoperasi SPPBE khusus untuk LPG 3 kg. SPPBE yang ada melakukan filling (pengisian) untuk LPG 3 kg dalam rangka mendukung program konversi minyak tanah bersubsidi ke LPG 3 kg yang sedang berlangsung di beberapa daerah di Provinsi Jawa Timur yaitu: kota Surabaya, kab. Sidoarjo, kab. Gresik, kab. Malang, dan kota Malang. Adapun fasilitas infrastruktur LPG yang ada di daerah provinsi Jawa Timur untuk saat ini adalah:

Depot LPG:

fp.jpg

Sumber: berbagai sumber

SPPBE:

sppbe.jpg

Sumber: berbagai sumber

Kapasitas Depot LPG dan SPPBE merupakan infrastruktur yang terpenting di dalam rantai distribusi LPG. Dengan kapasitas depot LPG yang ada, tidak akan cukup untuk memenuhi LPG 3 kg yang dibutuhkan. Oleh karena itu, harus dibangun Depot LPG baru yang dapat menyimpan LPG sebanyak 14 X 2.908 ton = 40.172 ton. Adapun angka 14 dibuat sebagai angka buffer (stok cadangan) agar tidak terjadi kekurangan supply LPG. Untuk mengamankan pengisian tabung LPG 3 kg, maka harus dibangun SPPBE yang dapat memenuhi 2.908 ton/hari atau 87.252 ton/bulan. Dengan kapasitas SPPBE yang ada hanya dapat menghasilkan filling sebesar 10.000 Metric Ton (MT) /bulan, tidak mungkin cukup untuk memenuhi permintaan LPG 3 kg. Asumsi kapasitas filling 1 SPPBE adalah 2000 Metric Ton/bulan, maka harus dibangun sekitar 44 SPPBE baru (87.252 ton/bulan dibagi 2000 Metric Ton/bulan). Pembangunan 1 SPPBE membutuhkan dana sekitar Rp. 5-10 milyar. Total dana yang dibutuhkan untuk membangun 44 SPPBE sekitar Rp. 220-440 milyar.

Agen LPG 3 kg

Untuk mengkonversi agen minyak tanah (APMT) menjadi agen LPG 3 kg, dibutuhkan modal investasi yang besar. Asumsi yang digunakan adalah: para agen membeli 10.000 tabung dengan isi 3 kg LPG yang setara dengan sekitar 52.000 liter minyak tanah ( 52 KL). Investasi yang diperlukan para agen LPG 3 kg adalah untuk membeli tabung LPG 3 kg sebanyak sekitar 10.000 tabung yang akan digunakan sebagai rolling ke pangkalan LPG 3 kg. Para agen LPG 3 kg untuk membeli 10.000 tabung, maka modal investasi yang dibutuhkan untuk membeli tabung dan isi yang seharga Rp 150 ribu x 10.000 tabung = Rp 1.500.000.000 diluar fasilitas gudang dan mobil angkut. Modal yang cukup besar tersebut tentu harus menjadi pertimbangan khusus. Ada kemungkinan para agen minyak tanah tidak memiliki modal untuk bisa mengkonversi menjadi agen LPG 3 kg, sehingga perlu dicari solusi yang baru agar rantai distribusi LPG 3 kg tidak terputus.

Pangkalan LPG 3 kg

Untuk mengkonversi pangkalan minyak tanah (PMT) menjadi pangkalan LPG 3 kg, juga dibutuhkan modal investasi yang besar. Asumsi yang digunakan adalah: para PMT membeli 1.000 tabung dengan isi 3 kg LPG yang setara dengan 5.200 liter minyak tanah. Investasi yang diperlukan para pangkalan LPG 3 kg adalah untuk membeli tabung LPG 3 kg sebanyak sekitar 1000 tabung yang akan digunakan sebagai rolling ke konsumen akhir atau ke pengecer. Para pangkalan LPG 3 kg untuk membeli 1000 tabung, maka modal investasi yang dibutuhkan untuk membeli tabung dan isi yang seharga Rp 150 ribu x 1000 tabung = Rp 150.000.000 diluar fasilitas gudang. Modal yang cukup besar tersebut tentu harus menjadi pertimbangan khusus. Ada kemungkinan para pangkalan minyak tanah tidak memiliki modal untuk bisa mengkonversi menjadi pangkalan LPG 3 kg, sehingga perlu dicari solusi yang baru agar rantai distribusi LPG 3 kg tidak terputus. Berdasarkan informasi dari Direktur Pemasaran dan Niaga PT. Pertamina, Ir. Ahmad Faisal, bahwa PT. Pertamina akan memberikan pinjaman ke para PMT sebesar 50 juta rupiah melalui Program Kemitraan dan Bina Lingkungan ( PKBL ). Semoga bantuan tersebut bisa cair sehingga masalah beban permodalan yang ada di para PMT bisa berkurang.

Pengecer LPG 3 kg

Untuk mengkonversi pengecer minyak tanah (PMT) menjadi pengecer LPG 3 kg, juga dibutuhkan modal investasi yang besar. Investasi yang diperlukan para pengecer LPG 3 kg adalah untuk membeli tabung LPG 3 kg sebanyak sekitar 100 tabung yang akan digunakan sebagai rolling ke konsumen akhir. Para pengecer LPG 3 kg untuk membeli 100 tabung, maka modal investasi yang dibutuhkan untuk membeli tabung dan isi yang seharga Rp 150 ribu x 100 tabung = Rp 15.000.000. Modal yang cukup besar tersebut tentu harus menjadi pertimbangan khusus.
Kesiapan infrastruktur rantai distribusi LPG 3 kg harus benar-benar ditelaah lebih cermat dan teliti sehingga security of supply (keamanan pasokan) LPG 3 kg ke konsumen akhir dapat terlaksana dengan baik.

Oleh :

Hendri Edianto
Direktur Riset