Oleh Hendri Edianto
Direktur Riset

MOPS yang merupakan singkatan dari Mean of Platts Singapore adalah penilaian produk untuk trading minyak di kawasan Asia yang dibuat oleh Platts, anak perusahaan McGraw Hill. Istilah MOPS selama ini dikenal di Indonesia dengan Mid Oil Platts Singapore yang dijadikan patokan harga BBM di Indonesia berdasarkan Perpres No. 55 Tahun 2005.

Selisih harga patokan per liter jenis BBM tertentu yang didasarkan ke MOPS ditambah alpha (margin dan fee distribusi) yang sebesar 14,1% dikurangi dengan harga jual eceran per liter jenis BBM tertentu di Indonesia yang akan menjadi besar patokan subsidi untuk tiap liter jenis BBM tertentu.

Jenis BBM tertentu berdasarkan Perpres No. 55 Tahun 2005 tersebut adalah minyak tanah, premium, dan solar. Besar kuota untuk BBM yang bersubsidi tahun 2007 adalah 9,6 juta KL (minyak tanah), 16,6 juta KL (premium), dan 9,9 juta KL (solar). Untuk tahun 2007, besar kuota jenis BBM terentu dikali besar subsidi per liter jenis BBM tertentu akan dibebankan ke APBN tahun 2007.

Lembaga Penilaian Harga Minyak di Singapura

Untuk kawasan Asia terutama di Singapore, Platts bukan satu-satunya lembaga yang melakukan penilaian harga untuk trading produk minyak. Lembaga lain yang melakukan hal yang sama adalah Argus Media. Dua lembaga tersebut memiliki metode yang berbeda dalam hal penilaian harga minyak di Singapura. Metode yang berbeda membuat penilaian harga minyak di Singapore yang diterbitkan 2 lembaga tersebut juga akan berbeda.

Jika kita bertanya: “Mengapa 2 lembaga tersebut melakukan penilaian harga minyak?”. Jawaban untuk pertanyaan tersebut adalah: penilaian harga minyak memiliki beberapa manfaat bagi perusahaan minyak maupun investor di bursa keuangan. Manfaat tersebut untuk: long term contracts, spot sales, perencanaan ekonomi terhadap jenis minyak yang dimiliki perusahaan minyak, dan swap contract.

Penilaian harga minyak MOPS versus Argus Media

Penilaian harga MOPS berdasarkan transaksi yang terjadi di sistem window Platts. Di mana seller dan buyer memasukkan volume untuk jenis minyak yang sesuai spesifikasi Platts dan harga bid/offer. Sedangkan Argus Media menggunakan metode survei, testing, dan analisis untuk menentukan penilaian harga minyak.

Berdasarkan penelitian Argus Media Singapore terhadap penilaian harga MOPS akan selalu terjadi kenaikan harga apabila PT Pertamina akan melakukan pembelian minyak untuk memenuhi kebutuhan BBM dalam negeri. Para supplier PT Pertamina yang akan sangat aktif dalam melakukan bidding untuk menaikkan harga transaksi. Patokan harga keekonomian BBM yang berdasarkan penilaian harga MOPS akan membuat oknum tertentu bekerja sama untuk berperan aktif dalam menaikkan penilaian harga MOPS. Transaksi minyak yang terjadi di sistem window Platts sangatlah kecil. Transaksi yang terjadi di Platts hanya sekitar 5 transaksi per hari. Sistem window Platts yang tidak liquid akan membuat pembentukan harga yang diinginkan oknum tertentu dapat saja terjadi. Bagi perusahaan minyak penilain harga MOPS hanya dijadikan patokan harga saja. Kebanyakan perusahaan minyak melakukan transaksi over the counter. Transaksi-transaksi seperti ini tidak tercatat di sistem window Platts.

Untuk kasus minyak tanah (kerosene) yang dilampirkan tabel di bawah ini, tercatat pergerakan harga yang cukup cukup tajam sebesar 66%. Bila dihitung dalam besar harga maka tercatat perbedan U$ 0,5-1 per barel. Dari konsumsi kuota minyak tanah tahun 2007 yang sebesar 9,51 juta KL (59,8 juta barel); - konversi 1 barel = 159 liter-. maka dengan perbedaan harga U$ 0,5-1 akan didapatkan peluang kerugian U$ 29,9 juta – 59,8 juta (asumsi $ 1 = Rp 10.000, konversinya adalah Rp 299 milyar- Rp 598 milyar) bagi negara Indonesia yang harus dibayarkan melalui APBN 2007. Perhitungan ini hanya untuk minyak tanah saja. Bagaimana dengan peluang kerugian melalui premium dan solar?

Jet Prices After Spring 2001

Sumber: Argus Media Singapore

Lembaga Pengawas Harga Keekonomian BBM

Berdasarkan informasi yang didapatkan penulis, untuk perusahaan dari Indonesia hanya PT Pertamina yang berlangganan data Platts dengan membayar $ 100 ribu/tahun. Dari langganan data Platts tersebut PT Pertamina menyatakan berapa besar harga patokan (keekonomian) BBM untuk tiap bulannya ke Direktorat Jenderal Minyak dan Gas Bumi yang kemudian ditagihkan ke Departemen Keuangan. Mahalnya langganan data Platts tersebut membuat tidak adanya suatu lembaga pun yang bisa mengoreksi harga patokan (keekonomian) BBM yang diterbitkan oleh PT Pertamina setiap bulannya. Sudah selayaknya dibentuk suatu lembaga independen untuk mengawasi penentuan harga patokan (keekonomian) BBM yang dibuat oleh PT Pertamina.

Metode Baru Harga Patokan BBM

Hal yang sangat penting dilakukan oleh Pemerintah adalah mengubah metode harga patokan BBM. Jangan hanya MOPS yang dijadikan patokan harga keekonomian BBM, tapi kombinasikan dengan penilaian harga minyak dari Argus Media. Tujuan dari kombinasi patokan harga keekonomian BBM ini untuk mengurangi harga keekonomian BBM. Kombinasi penilaian harga MOPS dan Argus Media telah terbukti dapat mengurangi penilaian harga minyak di Singapura. Kombinasi yang digunakan untuk patokan harga keekonomian BBM adalah 50% MOPS dan 50% Argus Media. Metode seperti inilah yang telah digunakan di India, Thailand, dan Philipina. Negara-negara tersebut merupakan negara-negara yang harus mengimpor BBM untuk memenuhi kebutuhan BBM dalam negeri. Jika hanya menjadikan MOPS sebagai satu-satunya patokan harga keekonomian BBM untuk negara-negara pengimpor BBM sangatlah riskan dari terjadinya manipulasi harga yang akan dilakukan oleh oknum-oknum tertentu untuk menaikkan penilaian harga MOPS. Semoga metode baru ini dapat mengurangi beban subsidi BBM yang dapat mengurangi beban APBN.

Untuk crude oil, Pemerintah Indonesia telah mengubah patokan Indonesian Crude Price (ICP) dengan suatu formula yang baru yaitu 50% RIM + 50% Platts. Patokan ICP juga akan mempengaruhi besar penerimaan APBN yang akan diterima Pemerintah Indonesia dari para Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS). Perubahan patokan ICP tersebut dengan tujuan untuk memperbesar penerimaan negara dari sektor miyak yang diperoleh dari besar volume penjualan minyak mentah dikalikan dengan harga patokan ICP.

Jika Pemerintah Indonesia mau melakukan perubahan untuk patokan harga minyak mentah demi mendapatkan hasil penerimaan keuangan yang lebih baik, mengapa tidak mau melakukan perubahan patokan harga BBM untuk mengurangi beban subsidi yang harus dibayarkan melalui APBN?

Kami menunggu tindak lanjut dari Pemerintah Indonesia untuk melakukan perubahan terhadap harga patokan BBM yang akan membuat beban APBN semakin lebih ringan.

Catatan:

Penulis berkunjung ke Platts Singapore dan Argus Media Singapore pada 12-14 Desember 2005.

Untuk kunjungan ke Platts Singapore, penulis berdiskusi dengan:

  • Paul Young (Managing Editor Singapore Oil Markets)
  • David Ernsberg (Editorial Director, Asia)
  • Jimmy K.H. Ang (Director of Oil Market Reporting Asia)
  • Leon Yeo (Sales Director Asia-Pacific)
  • Ken Wang (Account Manager Asia-Pacific)

Untuk kunjungan ke Argus Media Singapore, penulis berdiskusi dengan:

  • Paul Wood (Products Editor)
  • Freddie Yap (Reporter)